Seharusnya Membahagiakan ..
“tuut .. tuut .. tuuuuuuuuuuutt.”
Sudah berkali-kali aku menelepon Mira, tapi tak sekalipun teleponku dijawab. Aku mulai putus asa. Aku merasa tak ada seorangpun yang peduli dengan keadaanku saat ini. Semuanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
“Aku kangen Mama. Aku butuh Mama sekarang. Seandainya saja Mama masih hidup, aku nggak akan ngrasa sendirian kaya gini.” Kataku dengan mata berkaca-kaca sambil memandangi foto Mamaku.
Ya, sejak kecil aku hidup tanpa merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Mama meninggalkan Papa dan aku yang saat itu masih berusia 2 tahun. Dokter bodoh itu yang telah membuat Mama meninggalkan kami. Ya, Mamaku meninggal karena malpraktik yang dilakukan dokter itu. Sejak saat itu, aku sangat takut dengan dokter, dan sekaligus membenci orang-orang yang berprofesi sebagai dokter.
Bagi Papa, membesarkanku sendirian bukan hal yang mudah. Apalagi Papa harus pandai-pandai membagi waktunya antara bekerja dan meluangkan waktu untukku. Meskipun demikian, tak sedikitpun terlintas di benak Papa keinginan untuk mencari pendamping yang dapat mengganti posisi Mama.
Hampir setiap hari aku merasa kesepian tanpa kehadiran Mama. Papaku pun selalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Hampir seharian waktunya tersita di kantor. Tapi aku beruntung mempunyai seorang sahabat yang selalu ada saat aku merasa kesepian. Mira, dia sahabatku sejak di bangku SD. Aku begitu mengenalnya, begitu pula sebaliknya.
Mira memang hanya berasal dari keluarga yang pas-pasan, tidak seperti aku. Kedua orangtuanya hanya seorang guru SD. Meskipun dalan keadaan yang seperti itu, keluarganya sangat bahagia. Setiap hari kedua orangtuanya tak sesibuk Papaku. Dia selalu dapat merasakan waktu bersama dengan keluarganya.
Di sekolah, aku dan Mira selalu bersama. Sampai saat ini aku kelas tiga SMA pun dia masih satu kelas denganku. Guru-guru seolah tahu dan mengerti bahwa kami tidak ingin berpisah. Berbeda denganku, Mira sangat rajin dan pandai. Setiap tugas yang diberikan olah guruku selalu dapat diselesaikannya tepat waktu. Tak jarang aku meminta bantuannya jika mengalami kesulitan belajar. Tetapi akhir-akhir ini aku tak tahu apa yang sebenanya terjadi. Setiap kali aku membutuhkan kehadirannya, aku merasa dia malah menjauh. Aku benar-benar bingung dengan sikapnya.
“kriing .. kring .. kring ..”
“Mbak Caca, ada telepon dari mas Dika.” Suara Mbak Inah dari pintu kamar menyadarkanku dari lamunan yang cukup lama.
“Bilang aja aku udah tidur, Mbak. Aku lagi pengen sendiri.” Kataku sambil mengusap air mata di pipiku.
Sebenarnya sejak tadi siang aku belum mendengar kabar dari Dika. Semua telepon atau smsku tak ada satupun yang dijawab karena sibuk dengan kegiatannya. Aku tahu dan mengerti posisi dia sebagai pemain basket terbaik di sekolah yang setiap hari harus berlatih untuk pertandingan minggu depan. Tapi apa dengan cara seperti ini dia memperlakukanku ??
*****
“pim .. piimm ..” klakson motor Dika membuatku segera beranjak dari tempat tidur dan mengintipnya dari jendela kamarku. Aku bertanya-tanya dalam hati, ada perlu apa sepagi ini dia sudah datang ke rumahku.
“Caca .. cepetan keluar. Ada sesuatu buat kamu.” Teriak Dika dari depan pintu gerbang.
Dengan rambut yang masih berantakan, aku segera berlari ke depan pintu gerbang. Aku penasaran dengan apa yang akan dia lakukan sepagi ini. Rasa penasaranku seolah-olah mengalahkan pikiranku untuk melupakan kesalahan yang dilakukan Dika beberapa hari iniH
“hih .ngapain kamu pagi-pagi gini uda sampai sini? Uda pakai sragam pula . Biasanya kan kalau belum jam setengah 7, kamu belum kesini jemput aku.” Kataku sambil menatap Dika dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Emang nggak boleh ya?? Ya ampun, kamu bauu. Cepetan mandi dulu sana, terus berangkat ke sekolah bareng aku.” Kata Dika dengan senyum manisnya sambil pura-pura menutupi lubang hidung.
“ooo .. jadi gitu. Ke sini pagi-pagi gini Cuma buat ngatain aku??” Kataku ketus.
“Idiih .. gitu aja ngambek. Maaf deh, maaf yaa beb. Bebek .. !!Haha .. Ini aku kasih buat kamu. ” Kata Dika dengan penuh kekonyolan sambil memberiku setangkai mawar putih, bunga kesukaanku.
“Huuh .. udah ah, aku mandi dulu.” Kataku berpura-pura kesal saat menerima ima pemberian dari Dika, lalu berbalik masuk ke rumah.
“Maafin aku yaa akhir-akhir ini jarang ngluangin waktu buat kamu. Aku janji bakal nemenin kamu. Jangan pernah ngrasa kesepian lagi yaa Ca ..” Kata Dika dengan suara yang cukup keras saat aku berjalan membelakanginya.
Kata-kata yang keluar dari mulut Dika membuatku sejenak lupa dengan apa yang telah diperbuat olehnya akhir-akhir ini padaku. Sebenarnya aku tidak ingin perang dingin terus-terusan dengannya. Tidak akan nada arti dan untungnya juga jika aku diam dan menghindar darinya. Aku malah akan merasa kesepian lagi.
*****
“Mir, kamu kenapa?? Akhir-akhir ini aku ngrasa kamu menghindar terus. Kemarin aku telepon kamu berkali-kali nggak dijawab.” Aku mendekati Mira yang sedang duduk di bangkunya.
“Aku nggak kenapa-kenapa kok. Maaf kemarin aku udah tidur.” Kata Mira dengan tatapan mata yang sepertinya menyimpan kesedihan.
“hmm. Ya udah deh nggak papa. Kalau ada masalah crita aja ma aku.”
Aku tak mengerti apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Mira. Tidak biasanya dia bersikap begini padaku. Baru kali ini aku melihat Mira yang begitu besar menyimpan kesedihan. Aku tak ingin dia jadi pemurung seperti ini. Apalagi sebulan lagi ada ujian akhir sudah dimulai. Seharusnya dia bersemangat untuk mempersiapkan semuanya. Aku ingin semangatnya kembali lagi.
*****
Sebulan kemudian.
Selama lima hari seluruh siswa SMA bergelut dengan soal-soal yang tidak bisa dibilang mudah. Aku, Dika, dan Mira begitu merasakan bagaimana perjuangan seorang pelajar untuk dapat dikatakan LULUS. Tapi semua itu dapat kami lewati dengan lancar. Tinggal menunggu waktu untuk dikatakan lulus atau tidak. Seluruh siswa di sekolahku yakin bahwa perjuangan kami tak pernah sia-sia.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Luapan kegembiraan muncul dari seluruh siswa di sekolahku yang 100% dinyatakan lulus, terutama Mira. Hasil usahanya yang begitu keras membawanya memperoleh nilai ujian terbaik di kelasku. Aku ikut senang dengan keberhasilannya, meskipun aku tak bisa meraih nilai sebaik dia.
“Akhirnya perjuangan kita ada hasilnya.” Kata Dika dengan penuh kebanggaan.
“Iiiyaa ,, seneng deh, semuanya bisa lulus.” Mira menyambung.
“hihi .. tapi kan kita masih harus berjuang buat dapet perguruan tinggi.” Kataku dengan sok dewasa.
“ii .. ii .. yyaaa juga sih. Perjuangan kita belum cukup sampai di sini.” Tambah Mira dengan suara yang seakan-akan terkejut karena kata-kataku.
Aku masih heran dengan sikap Mira yang terkadang berubah menjadi seorang pemurung. Sepertinya dia menyimpan beban yang cukup berat. Aku tak tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan. Sulit meyakinkannya agar mau menceritakan kesedihan yang dipendamnya dalam hati.
*****
Baru dua minggu liburan, kebosanan sudah mulai menyerangku. Tak ada kegiatan berarti yang dapat kulakukan di liburan yang panjang ini. Setiap hari kegiatanku hanya jalan-jalan ke toko buku atau nonton DVD bareng Mira di rumah. Meskipun sudah tidak duduk di bangku SMA lagi, tapi Dika pun masih sibuk dengan latihan basketnya. Ditambah lagi dia sekarang ikut-ikutan ngeband sama teman-teman masa SMPnya dulu.
Tetapi aku bersyukur dia masih memperhatikanku di tengah-tengah kesibukannya. Setiap malam dia selalu ke rumahku untuk sekedar ngobrol atau mengeluarkan kekonyolannya yang rasanya nggak penting itu.
Ndreet ,, ndreet ,, ndreet. Tiba-tiba handphoneku bergetar. Satu pesan baru kuterima dari Dika.
Ca, bsk malem kita makan malem bareng yukk. Kan bsk km ultah tu. Aku pngen bkin kejutan. Bsk ak jmput km jam 7 mlm ya. Tunggu aku .. lov u.
Aku tak sabar menunggu hari esok, hari ultahku yang ke delapan belas. Aku sangat penasaran dengan kejutan yang akan diberikan Dika untukku. Apa yang akan dia berikan untukku ??
*****
Hari yang kutunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Berbagai ucapan ulang tahun kuterima dari teman-temanku, tak terkecuali Papa yang sangat menyayangiku. Mira, sahabatku pun rela datang jam 4 pagi hanya untuk memberiku ucapan ulang tahun.
“Caca .. happy birthday yaa. Moga tambah apa aja yang baik-baik. Tuhan memberkati.” Kata Dika lewat telepon.
“Iyaa, makasi .. ntar malem jadi kan ??”
“Jadi dong. Duh, nggak sabar nunggu ntar malem. Tunggu aku jam 7 malem. Dandan yang cantik yaa .. oke ??”
“Okee ciin.” Jawabku dengan penuh kepastian.
*****
Resah. Itulah yang kurasakan saat ini. Padahal saat ini aku akan merayakan ulang tahun bareng Dika. Aku masih menunggunya di depan rumah.
10 menit, 20 menit berlalu. Berulang-ulang aku memperhatikan jarum yang bergerak pada jam tangan emasku. Ini sudah lebih dari waktu yang dijanjikan Dika. Lalu kucoba untuk menghubunginya ..
“tulalit .. tulalit .. tulalit ..” Handphonenya tidak aktif. Aku bertanya-tanya dalam hati, dia dimana?? Apa yang dilakukannya saat ini??
Aku mulai kecewa padanya. Sudah lebih dari satu jam aku menunggu kedatangannya, tapi tak juga kudengar suara motornya berhenti di depan rumahku. Air mataku mulai menetes sedikit demi sedikit. Harusnya ini adalah hari yang membahagiakan untukku. Tapi kenapa malah jadi gini ..
Aku benar-benar sedih. Tak ada orang yang menemaniku saat ini. Papa belum juga pulang dari kantor. Aku butuh kehadiran seseorang di sini. Aku kemudian menelpon Mira, siapa tahu dia mau menemaniku saat ini.
“Tuuut .. tuuutt .. tuuuuuuuuuuuuuttt.” Tak diangkat.
Aku putus asa, semangatu hilang ebgitu saja. Kebahagiaan yang hampir aku rasakan seolah pergi terhempas angin yang berlalu begitu cepat. Ke rumah Mira, yaa! Itulah satu-satunya yang dapat kulakukan untuk mengurangi beban pikiranku saat ini.
“Mir .. Mira .. Buka pintunya. Aku butuh kamu sekarang.” Kupanggil Mira dengan terisak-isak dari luar rumahnya.
“Ada apa dek Caca malem-malem gini nyari Mira?? Mira ada di kamar. Silakan saja ke sana.” Kata ibu Mira sambil mnyambutku.
“Ohh yaa ,, makasi Tante.”
Aku langsung berlari ke kamar Mira. Dari depan pintu kamarnya, kulihat dia sedang mengemasi baju-bajunya ke dalam koper. Ha ?? Apa yang dilakukannya ??
“Mirr .. kamu ngapain ??” Kataku dari depan pintu kamar masih dengan mata yang berkaca-kaca.
“ka .. ka .. muu kesini ngaa .. pain, Ca?”. Tanyanya dengan sangat terkejut saat melihatku.
“Ada apa ini sebenarnya?? Kamu mau pergi ?? kamu mau ninggalin aku juga??” Bentakku sambil terisak-isak.
“Maaf Ca, maaf banget aku belum bilang ke kamu. Aku belum siap kalau kamu bakal benci sama aku. Terlalu berat buatku untuk mengatakannya. Please maafin aku ..” mata Mira mulai berkaca-kaca saat dia mendekatiku.
“Ada apa sebenarnya?? Apa ini yang bikin kamu beberapa waktu lalu jadi sering murung??”
“Sebenarnya .. Sebenarnya .. Emm ,, Aaa .. ku dapet beasiswa kuliah di Surabaya, Ca. Ta .. tapii ,, di fakultas kedokteran.” Air mata Mira mulai menetes membahasi wajah manisnya.
“Hah?? Apaa?? kamu mau jadi dokter?? Kamu tahu kan aku benci sama dokter?? Sia-sia aku ke sini. Nggak berguna. Emang semua orang nggak pedulu ma aku. Semuanya egois .. nggak ada yang mau ngerti perasaanku.” Aku berbalik meninggalkan Mira.
“Caa .. please maafin aku. Aku pengen banget kuliah di kedokteran, apalagi dapet beasiswa. Aku nggak pengen nyia-nyiain itu semua.” Mira berlari mengejarku masih dengan perasaan bersalah.
“Udah ah. Terserah kamu. Aku emang nggak pantes dapetin kebahagiaan.” Tak sedikitpun aku menoleh ke arah Mira, yang saat itu masih mengejarku.
Aku kecewa dengan orang-orang di sekitarku. Tak ada yang peduli denganku. Papaku, sahabatku, dan pacarku pun tak satu pun mengerti apa yang aku butuhkan. Arrrrghhhh .. Kemarahanku mulai memuncak. Hujan dan suara guntur yang menggelegar menambah kesedihanku. Air yang jatuh ke kaca taksi seolah-olah menggambarkan mereka ikut menagis bersama-sama denganku. Aku sudah lelah dengan hidupku. Ini adalah hari ulang tahun terburuk yang pernah kualami dalam kehidupanku.
Dari ujung jalan aku melihat motor yang diparkir di depan rumahku. Yaa, tak salah lagi, itu motor Dika. Aku sudah tidak ingin ketemu Dika. Semua yang dikatakannya hanya omong kosong dan janji-janji palsu. Aku benci dengannya ..
“Caa .. aku minta maaf aku nggak bisa nepatin janjiku. Tadi mendadak aku diajak temenku manggung. Aku nggak nyangka bakal sampai jam segini.” Dika menarik tanganku saat aku turun dari taksi dengan bajunya yang basah kuyup.
Aku terdiam. Tak satu katapun keluar dari mulutku. Aku melepaskan genggaman Dika dengan kasar dan berlari masuk ke dalam rumah. Aku tak peduli dengannya. Aku sudah tak mau percaya dengan kata-katanya.
2 jam kemudian.
Ndret .. ndret .. ndret .. Getar handphone tiba-tiba membangunkanku dari tidur.
“Halo .. ini Caca ??” kudengar suara seorang bapak-bapak dari seberang sana.
“Iyaa betul .. maaf ini siapa?? Ada perlu apa yaa ??” tanyaku penasaran dengan orang itu.
“Saya Omnya Dika. Dika barusan kecelakaan. Sekarang dia ada di ICU, tak sadarkan diri. Kata dokter kemungkinan besar dia bakal lumpuh.” Kata Omnya Dika dengan menahan kesedihan.
Dug. Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku tak percaya dengan apa yang terjadi. Apa yang telah aku lakukan?? Tuhan, inikah hadiah yang Kau berikan di hari ulang tahunku yang seharusnya membahagiakan??
Oleh :
Ferensia Radita
XI IA Aksel 2 / 10
Jumat, 11 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar