Jumat, 11 September 2009

Bahasa Indonesia : Cerpen 3

Seharusnya Membahagiakan ..

“tuut .. tuut .. tuuuuuuuuuuutt.”
Sudah berkali-kali aku menelepon Mira, tapi tak sekalipun teleponku dijawab. Aku mulai putus asa. Aku merasa tak ada seorangpun yang peduli dengan keadaanku saat ini. Semuanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
“Aku kangen Mama. Aku butuh Mama sekarang. Seandainya saja Mama masih hidup, aku nggak akan ngrasa sendirian kaya gini.” Kataku dengan mata berkaca-kaca sambil memandangi foto Mamaku.
Ya, sejak kecil aku hidup tanpa merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Mama meninggalkan Papa dan aku yang saat itu masih berusia 2 tahun. Dokter bodoh itu yang telah membuat Mama meninggalkan kami. Ya, Mamaku meninggal karena malpraktik yang dilakukan dokter itu. Sejak saat itu, aku sangat takut dengan dokter, dan sekaligus membenci orang-orang yang berprofesi sebagai dokter.
Bagi Papa, membesarkanku sendirian bukan hal yang mudah. Apalagi Papa harus pandai-pandai membagi waktunya antara bekerja dan meluangkan waktu untukku. Meskipun demikian, tak sedikitpun terlintas di benak Papa keinginan untuk mencari pendamping yang dapat mengganti posisi Mama.
Hampir setiap hari aku merasa kesepian tanpa kehadiran Mama. Papaku pun selalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Hampir seharian waktunya tersita di kantor. Tapi aku beruntung mempunyai seorang sahabat yang selalu ada saat aku merasa kesepian. Mira, dia sahabatku sejak di bangku SD. Aku begitu mengenalnya, begitu pula sebaliknya.
Mira memang hanya berasal dari keluarga yang pas-pasan, tidak seperti aku. Kedua orangtuanya hanya seorang guru SD. Meskipun dalan keadaan yang seperti itu, keluarganya sangat bahagia. Setiap hari kedua orangtuanya tak sesibuk Papaku. Dia selalu dapat merasakan waktu bersama dengan keluarganya.
Di sekolah, aku dan Mira selalu bersama. Sampai saat ini aku kelas tiga SMA pun dia masih satu kelas denganku. Guru-guru seolah tahu dan mengerti bahwa kami tidak ingin berpisah. Berbeda denganku, Mira sangat rajin dan pandai. Setiap tugas yang diberikan olah guruku selalu dapat diselesaikannya tepat waktu. Tak jarang aku meminta bantuannya jika mengalami kesulitan belajar. Tetapi akhir-akhir ini aku tak tahu apa yang sebenanya terjadi. Setiap kali aku membutuhkan kehadirannya, aku merasa dia malah menjauh. Aku benar-benar bingung dengan sikapnya.
“kriing .. kring .. kring ..”
“Mbak Caca, ada telepon dari mas Dika.” Suara Mbak Inah dari pintu kamar menyadarkanku dari lamunan yang cukup lama.
“Bilang aja aku udah tidur, Mbak. Aku lagi pengen sendiri.” Kataku sambil mengusap air mata di pipiku.
Sebenarnya sejak tadi siang aku belum mendengar kabar dari Dika. Semua telepon atau smsku tak ada satupun yang dijawab karena sibuk dengan kegiatannya. Aku tahu dan mengerti posisi dia sebagai pemain basket terbaik di sekolah yang setiap hari harus berlatih untuk pertandingan minggu depan. Tapi apa dengan cara seperti ini dia memperlakukanku ??
*****
“pim .. piimm ..” klakson motor Dika membuatku segera beranjak dari tempat tidur dan mengintipnya dari jendela kamarku. Aku bertanya-tanya dalam hati, ada perlu apa sepagi ini dia sudah datang ke rumahku.
“Caca .. cepetan keluar. Ada sesuatu buat kamu.” Teriak Dika dari depan pintu gerbang.
Dengan rambut yang masih berantakan, aku segera berlari ke depan pintu gerbang. Aku penasaran dengan apa yang akan dia lakukan sepagi ini. Rasa penasaranku seolah-olah mengalahkan pikiranku untuk melupakan kesalahan yang dilakukan Dika beberapa hari iniH
“hih .ngapain kamu pagi-pagi gini uda sampai sini? Uda pakai sragam pula . Biasanya kan kalau belum jam setengah 7, kamu belum kesini jemput aku.” Kataku sambil menatap Dika dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Emang nggak boleh ya?? Ya ampun, kamu bauu. Cepetan mandi dulu sana, terus berangkat ke sekolah bareng aku.” Kata Dika dengan senyum manisnya sambil pura-pura menutupi lubang hidung.
“ooo .. jadi gitu. Ke sini pagi-pagi gini Cuma buat ngatain aku??” Kataku ketus.
“Idiih .. gitu aja ngambek. Maaf deh, maaf yaa beb. Bebek .. !!Haha .. Ini aku kasih buat kamu. ” Kata Dika dengan penuh kekonyolan sambil memberiku setangkai mawar putih, bunga kesukaanku.
“Huuh .. udah ah, aku mandi dulu.” Kataku berpura-pura kesal saat menerima ima pemberian dari Dika, lalu berbalik masuk ke rumah.
“Maafin aku yaa akhir-akhir ini jarang ngluangin waktu buat kamu. Aku janji bakal nemenin kamu. Jangan pernah ngrasa kesepian lagi yaa Ca ..” Kata Dika dengan suara yang cukup keras saat aku berjalan membelakanginya.
Kata-kata yang keluar dari mulut Dika membuatku sejenak lupa dengan apa yang telah diperbuat olehnya akhir-akhir ini padaku. Sebenarnya aku tidak ingin perang dingin terus-terusan dengannya. Tidak akan nada arti dan untungnya juga jika aku diam dan menghindar darinya. Aku malah akan merasa kesepian lagi.
*****
“Mir, kamu kenapa?? Akhir-akhir ini aku ngrasa kamu menghindar terus. Kemarin aku telepon kamu berkali-kali nggak dijawab.” Aku mendekati Mira yang sedang duduk di bangkunya.
“Aku nggak kenapa-kenapa kok. Maaf kemarin aku udah tidur.” Kata Mira dengan tatapan mata yang sepertinya menyimpan kesedihan.
“hmm. Ya udah deh nggak papa. Kalau ada masalah crita aja ma aku.”
Aku tak mengerti apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Mira. Tidak biasanya dia bersikap begini padaku. Baru kali ini aku melihat Mira yang begitu besar menyimpan kesedihan. Aku tak ingin dia jadi pemurung seperti ini. Apalagi sebulan lagi ada ujian akhir sudah dimulai. Seharusnya dia bersemangat untuk mempersiapkan semuanya. Aku ingin semangatnya kembali lagi.
*****


Sebulan kemudian.
Selama lima hari seluruh siswa SMA bergelut dengan soal-soal yang tidak bisa dibilang mudah. Aku, Dika, dan Mira begitu merasakan bagaimana perjuangan seorang pelajar untuk dapat dikatakan LULUS. Tapi semua itu dapat kami lewati dengan lancar. Tinggal menunggu waktu untuk dikatakan lulus atau tidak. Seluruh siswa di sekolahku yakin bahwa perjuangan kami tak pernah sia-sia.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Luapan kegembiraan muncul dari seluruh siswa di sekolahku yang 100% dinyatakan lulus, terutama Mira. Hasil usahanya yang begitu keras membawanya memperoleh nilai ujian terbaik di kelasku. Aku ikut senang dengan keberhasilannya, meskipun aku tak bisa meraih nilai sebaik dia.
“Akhirnya perjuangan kita ada hasilnya.” Kata Dika dengan penuh kebanggaan.
“Iiiyaa ,, seneng deh, semuanya bisa lulus.” Mira menyambung.
“hihi .. tapi kan kita masih harus berjuang buat dapet perguruan tinggi.” Kataku dengan sok dewasa.
“ii .. ii .. yyaaa juga sih. Perjuangan kita belum cukup sampai di sini.” Tambah Mira dengan suara yang seakan-akan terkejut karena kata-kataku.
Aku masih heran dengan sikap Mira yang terkadang berubah menjadi seorang pemurung. Sepertinya dia menyimpan beban yang cukup berat. Aku tak tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan. Sulit meyakinkannya agar mau menceritakan kesedihan yang dipendamnya dalam hati.
*****
Baru dua minggu liburan, kebosanan sudah mulai menyerangku. Tak ada kegiatan berarti yang dapat kulakukan di liburan yang panjang ini. Setiap hari kegiatanku hanya jalan-jalan ke toko buku atau nonton DVD bareng Mira di rumah. Meskipun sudah tidak duduk di bangku SMA lagi, tapi Dika pun masih sibuk dengan latihan basketnya. Ditambah lagi dia sekarang ikut-ikutan ngeband sama teman-teman masa SMPnya dulu.
Tetapi aku bersyukur dia masih memperhatikanku di tengah-tengah kesibukannya. Setiap malam dia selalu ke rumahku untuk sekedar ngobrol atau mengeluarkan kekonyolannya yang rasanya nggak penting itu.
Ndreet ,, ndreet ,, ndreet. Tiba-tiba handphoneku bergetar. Satu pesan baru kuterima dari Dika.
Ca, bsk malem kita makan malem bareng yukk. Kan bsk km ultah tu. Aku pngen bkin kejutan. Bsk ak jmput km jam 7 mlm ya. Tunggu aku .. lov u.
Aku tak sabar menunggu hari esok, hari ultahku yang ke delapan belas. Aku sangat penasaran dengan kejutan yang akan diberikan Dika untukku. Apa yang akan dia berikan untukku ??
*****
Hari yang kutunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Berbagai ucapan ulang tahun kuterima dari teman-temanku, tak terkecuali Papa yang sangat menyayangiku. Mira, sahabatku pun rela datang jam 4 pagi hanya untuk memberiku ucapan ulang tahun.
“Caca .. happy birthday yaa. Moga tambah apa aja yang baik-baik. Tuhan memberkati.” Kata Dika lewat telepon.
“Iyaa, makasi .. ntar malem jadi kan ??”
“Jadi dong. Duh, nggak sabar nunggu ntar malem. Tunggu aku jam 7 malem. Dandan yang cantik yaa .. oke ??”
“Okee ciin.” Jawabku dengan penuh kepastian.
*****
Resah. Itulah yang kurasakan saat ini. Padahal saat ini aku akan merayakan ulang tahun bareng Dika. Aku masih menunggunya di depan rumah.
10 menit, 20 menit berlalu. Berulang-ulang aku memperhatikan jarum yang bergerak pada jam tangan emasku. Ini sudah lebih dari waktu yang dijanjikan Dika. Lalu kucoba untuk menghubunginya ..
“tulalit .. tulalit .. tulalit ..” Handphonenya tidak aktif. Aku bertanya-tanya dalam hati, dia dimana?? Apa yang dilakukannya saat ini??
Aku mulai kecewa padanya. Sudah lebih dari satu jam aku menunggu kedatangannya, tapi tak juga kudengar suara motornya berhenti di depan rumahku. Air mataku mulai menetes sedikit demi sedikit. Harusnya ini adalah hari yang membahagiakan untukku. Tapi kenapa malah jadi gini ..
Aku benar-benar sedih. Tak ada orang yang menemaniku saat ini. Papa belum juga pulang dari kantor. Aku butuh kehadiran seseorang di sini. Aku kemudian menelpon Mira, siapa tahu dia mau menemaniku saat ini.
“Tuuut .. tuuutt .. tuuuuuuuuuuuuuttt.” Tak diangkat.
Aku putus asa, semangatu hilang ebgitu saja. Kebahagiaan yang hampir aku rasakan seolah pergi terhempas angin yang berlalu begitu cepat. Ke rumah Mira, yaa! Itulah satu-satunya yang dapat kulakukan untuk mengurangi beban pikiranku saat ini.
“Mir .. Mira .. Buka pintunya. Aku butuh kamu sekarang.” Kupanggil Mira dengan terisak-isak dari luar rumahnya.
“Ada apa dek Caca malem-malem gini nyari Mira?? Mira ada di kamar. Silakan saja ke sana.” Kata ibu Mira sambil mnyambutku.
“Ohh yaa ,, makasi Tante.”
Aku langsung berlari ke kamar Mira. Dari depan pintu kamarnya, kulihat dia sedang mengemasi baju-bajunya ke dalam koper. Ha ?? Apa yang dilakukannya ??
“Mirr .. kamu ngapain ??” Kataku dari depan pintu kamar masih dengan mata yang berkaca-kaca.
“ka .. ka .. muu kesini ngaa .. pain, Ca?”. Tanyanya dengan sangat terkejut saat melihatku.
“Ada apa ini sebenarnya?? Kamu mau pergi ?? kamu mau ninggalin aku juga??” Bentakku sambil terisak-isak.
“Maaf Ca, maaf banget aku belum bilang ke kamu. Aku belum siap kalau kamu bakal benci sama aku. Terlalu berat buatku untuk mengatakannya. Please maafin aku ..” mata Mira mulai berkaca-kaca saat dia mendekatiku.
“Ada apa sebenarnya?? Apa ini yang bikin kamu beberapa waktu lalu jadi sering murung??”
“Sebenarnya .. Sebenarnya .. Emm ,, Aaa .. ku dapet beasiswa kuliah di Surabaya, Ca. Ta .. tapii ,, di fakultas kedokteran.” Air mata Mira mulai menetes membahasi wajah manisnya.
“Hah?? Apaa?? kamu mau jadi dokter?? Kamu tahu kan aku benci sama dokter?? Sia-sia aku ke sini. Nggak berguna. Emang semua orang nggak pedulu ma aku. Semuanya egois .. nggak ada yang mau ngerti perasaanku.” Aku berbalik meninggalkan Mira.
“Caa .. please maafin aku. Aku pengen banget kuliah di kedokteran, apalagi dapet beasiswa. Aku nggak pengen nyia-nyiain itu semua.” Mira berlari mengejarku masih dengan perasaan bersalah.
“Udah ah. Terserah kamu. Aku emang nggak pantes dapetin kebahagiaan.” Tak sedikitpun aku menoleh ke arah Mira, yang saat itu masih mengejarku.
Aku kecewa dengan orang-orang di sekitarku. Tak ada yang peduli denganku. Papaku, sahabatku, dan pacarku pun tak satu pun mengerti apa yang aku butuhkan. Arrrrghhhh .. Kemarahanku mulai memuncak. Hujan dan suara guntur yang menggelegar menambah kesedihanku. Air yang jatuh ke kaca taksi seolah-olah menggambarkan mereka ikut menagis bersama-sama denganku. Aku sudah lelah dengan hidupku. Ini adalah hari ulang tahun terburuk yang pernah kualami dalam kehidupanku.
Dari ujung jalan aku melihat motor yang diparkir di depan rumahku. Yaa, tak salah lagi, itu motor Dika. Aku sudah tidak ingin ketemu Dika. Semua yang dikatakannya hanya omong kosong dan janji-janji palsu. Aku benci dengannya ..
“Caa .. aku minta maaf aku nggak bisa nepatin janjiku. Tadi mendadak aku diajak temenku manggung. Aku nggak nyangka bakal sampai jam segini.” Dika menarik tanganku saat aku turun dari taksi dengan bajunya yang basah kuyup.
Aku terdiam. Tak satu katapun keluar dari mulutku. Aku melepaskan genggaman Dika dengan kasar dan berlari masuk ke dalam rumah. Aku tak peduli dengannya. Aku sudah tak mau percaya dengan kata-katanya.
2 jam kemudian.
Ndret .. ndret .. ndret .. Getar handphone tiba-tiba membangunkanku dari tidur.
“Halo .. ini Caca ??” kudengar suara seorang bapak-bapak dari seberang sana.
“Iyaa betul .. maaf ini siapa?? Ada perlu apa yaa ??” tanyaku penasaran dengan orang itu.
“Saya Omnya Dika. Dika barusan kecelakaan. Sekarang dia ada di ICU, tak sadarkan diri. Kata dokter kemungkinan besar dia bakal lumpuh.” Kata Omnya Dika dengan menahan kesedihan.
Dug. Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku tak percaya dengan apa yang terjadi. Apa yang telah aku lakukan?? Tuhan, inikah hadiah yang Kau berikan di hari ulang tahunku yang seharusnya membahagiakan??


Oleh :
Ferensia Radita
XI IA Aksel 2 / 10

Bahasa Indonesia : Cerpen 2

Salah Sangka

Matahari pagi menyembul dari ufuk timur menghangatkan kota Bogor yang diguyur hujan beberapa hari sebelumnya. Dingin perlahan beranjak pergi, seiring dengan hembusan udara segar yang membangkitkan gairah untuk kembali beraktivitas. Kicau burung yang menawan menambah keceriaan setiap penghuni di sekitarnya. Pohon dan bungapun ikut bernyanyi di kala pagi yang indah hari itu. Kendati hal tersebut, tidak membuat aku untuk cepat mandi dan memakai seragam sekolah.
Alarm hapeku mendadak bunyi “ Kamu keterlaluaaan ...”
“ Huuaah .. tidaaak ... aku hampir telat !” teriakku dengan keras.
Jam telah menunjukan pukul 06.49. Bergegas aku beranjak dari tempat tidurku dan menggapai handuk yang digantung cukup tinggi. Kemudian aku mandi seperti bebek dengan begitu cepatnya tanpa membersihkan badanku secara mendetail (dasar jorok ..). Lalu dengan terburu-buru aku pun memakai seragam baruku karena hari ini adalah hari pertama aku menjadi siswi SMU di sebuah sekolah di Bogor.
Tiba di Sekolah aku pun berlari untuk memasuki ruang kelas. Banyak sekali siswa yang bersekolah di sini tapi tak satupun ku kenal.
“ Teeet ... teet ...”bunyi bel Sekolah tanda masuk.
“ Hufh .. untungnya nggak telat, dasaar emang kebo.” keluhku.
Di dalam kelas aku bingung duduk di kursi yang mana. Aku melihat ada kursi yang masih kosong di deretan paling belakang dan aku pun menuju ke sana. Setelah aku duduk tak lama kemudian ada seorang cewek dengan rambut rebondingan duduk di sampingku. Dengan PD yang pas-pasan aku memberanikan diri untuk mengajaknya berkenalan.
“ Heei .. kenalin aku Ellen, dari Solo.” kataku sambil mengulurkan tangan.
“ Ouuhh .. iya Len, kenalin aku Prima dari Jogja.” ucap cewek itu sambil tersenyum.
“ Waah, ternyata kamu juga bukan asli sini toh ?” ucapku terlihat akrab.
“ Haduuh Ellen.. kan jelas-jelas nggak, ngapain tanya ?” ucapnya sambil tertawa.
“ Maap dueeh mangaap .. .” kataku sambil bercanda.
“ Ah, kamu ini .. garing tapi lucu.”kata Prima dengan tersenyum melihatku.
Senang rasanya, aku punya temen yang baik dan mau ku ajak bercanda. Aku dan Prima sama-sama nggak punya temen yang dikenal sebelumnya di Sekolah ini. Kemudian aku dan Prima ngajak kenalan cewek dengan rambut sebahu yang duduk di bangku depanku.
“ Helo kawan .. boleh kenalankah ?” sapaku dengan menyentuh punggung belakangnya.
“ Emm .. jelas boleh lah, aku Nanda. Kamu siapa ? Bukan asli sini ya ? Terus temenmu itu namanya siapa ?” jawab cewek cerewet itu.
“ Haduh .. banyak banget tanyanya .. satu-satu napa ? Gini, kenalin aku Ellen temenku ini Prima. Iya aku bukan asli sini, kok kamu tahu?” ucapku dengan sok bingung.
“ Maap .. udah biasa ngomong cepet soalnya, ya jadi kaya gini. Keliatan dari mukamu.” jawab Nanda dengan ketawa.
“ Napa mukaku cantik ya ? Udah lama kok, aku kan keturunan bidadari yang turun dari langit ke tujuh belas.” kataku sok ngelawak.
“ Duh .. narsis banget sih kamu. Tanggung jawab kamu, perutku jadi pusing gara-gara kamu ngomong gitu tadi.” sindir cewek itu sambil megang perutnya.
“ Sakit beneran baru kapok ..” ucapku sambil nyengir.
“ Jangan donk ..” jawab Nanda dengan muka mrengut.
Waktu demi waktu berlalu, aku, Prima dan Nanda terlihat sangat akrab saat bercanda tawa dan saling mengejek. Aku merasa nyaman berteman dengan kedua manusia yang sebelumnya tak ku kenal. Merekapun sepertinya merasa hal yang sama dengan perasaan dan gejolak dalam hatiku yang membara layaknya api yang tak kunjung padam(sok puitis .. ).
Bulan demi bulan kami lewati bersama, yang awalnya hanya temen biasa lambat laun berakhir dengan persahabatan. Persahabatan yang sangat berarti dalam kehidupanku. Segala gundah, kecewa, tangis dan tawa ku tuangkan semuanya pada sahabat begitupun sebaliknya. Perbedaan hobi, tingkah laku dan sifat yang masing-masing kami miliki sama sekali nggak jadi permasalahan buat menjalin persahabatan. Seperti misalnya aku dengan kepolosan dan keluguanku yang suka ceplas-ceplos, teriak-teriak, marah-marah, manja dan hobi buat beribu-ribu pulau. Sedangkan Prima adalah cewek centil yang suka dandan, bawa kaca kemana-mana, gonta-ganti cowok, dan hobi shopping. Kalau Nanda, dia adalah cewek cerewet yang nggak mau dibantah, dewasa dan punya hobi nulis. Hal tersebut sedikitpun nggak jadi masalah buat aku dan sahabatku bangun persahabatan yang kokoh seperti cakar ayam. Namun, tak disangka suatu ketika hal yang nggak ku inginkan sama sekali itu pun terjadi. Goncangan yang cukup hebat mampu mengusik amarahku.
“ Nandaaa . . . . . . . !!!” teriakku dengan kesal.
“ Iya .. apa sih ? Kamu kenapa Len, masih pagi teriak-teriak nggak jelas ?” ucap Nanda kebingungan.
“ Jengkelin banget sih kamu ..” tambahku dengan muka sebel.
“ Hloh .. kenapa toh ? Aku salah apa ? Aku berbuat apa sama kamu ? Kemaren kan kita baru aja canda tawa bareng kenapa sekarang kamu ngatain aku kaya gitu ?” jawab Nanda dengan menggaruk-garuk-kepala.
“ Heh cewek cerewet .. jangan sok nggak tahu deh kamu.” Sebenarnya selama ini kamu punya niat busuk kan sama aku ? Kamu ndengerin semua curhatku karna ada udang di balik batu kan ?” kataku sambil mendobrak meja kelas.
“ Maksud kamu apa ? Aku nggak terima kamu bilang semua itu. Aku itu sahabat kamu, aku nggak mungkin lah punya niat busuk atau gimana. Aku tuh sayang sama kamu, Len. Aku udah nganggep kamu saudaraku.” ucap cewek cerewet itu dengan mata berkaca-kaca.
“ Saudara dari Hongkong ..” Aku nggak mau punya saudara yang jahat kaya kamu. Bisa-bisa tiap hari aku nangis darah gara-gara ulahmu. Sayang-sayang pula, emang aku pacarmu apa ? Idiih .. ogah deh aku. Aku masih waras nggak gila kaya kamu. Udah lah jangan belagak sok nggak tau, sekarang kamu jawab jujur aja sama aku sebenarnya mau kamu tuh apa ?” tambahku dengan mendorong Nanda ke belakang.
“ Ya ampun .. kamu apa-apaan sih, Len ? Kamu seenaknya ndorong aku gitu aja. Aku tuh bener-bener nggak tahu maksud kamu.” jawab Nanda dengan nada rendah dan meneteskan air mata.
“ Nangis-nangis .. bisanya cuma nangis. Laporin sana ke Guru kalau aku udah nganiaya kamu, aduin aja sana. Dasar kamu ini serigala berbulu domba. Kamu nangis gini biar temen-temen prihatin kan sama kamu ? Biar temen-temen benci sama aku karna aku udah tega bentak-bentak sahabatku sendiri ? Iya kan ?” tambahku dengan mencengkeram kedua tanganku.
“ Enggak .. enggak Len .Cukup, nggak usah berbelit-belit sekarang kamu jelasin apa salahku yang udah ku lakuin sama kamu ?” jawab Nanda dengan kembali meneteskan air mata dan sambil mengusapnya dengan tangan.
“ Kamu mau tahu salahmu yang udah kamu perbuat ke aku ? Kamu udah ... ” jawabku terpotong karna penjaga Sekolah telah membunyikan bel.
“Teet .. teet ..” bel masuk berbunyi.
Tiba-tiba bel masuk pun berbunyi. Dengan penuh amarah yang masih meluap-luap, aku mengikuti pelajaran dengan pikiran yang sama sekali nggak konsen. Perasaan yang campur aduk membuat aku nglamun dan malas dengan pelajaran saat itu. Emosi, marah, itulah perasaan yang aku rasakan. Aku sedih, aku kesal, aku tak menyangka seorang sahabat yang selalu menjadi tempat aku sharing itu telah mengkhianatiku. Nanda ternyata mencintai orang yang sama dengan aku, Mikael namanya. Mikael adalah mantan kekasihku yang sebenarnya aku masih sayang sama dia. Aku menceritakan semuanya pada Nanda. Karna Nanda adalah sahabat yang paling ngertiin aku dan bisa ngasih solusi yang terbaik buat aku. Tapi kenyataannya Nanda berusaha mencari informasi tentang kegiatan Mikael, hobinya, dll. lewat curhat yang selama ini aku ceritakan padanya.
Tak kusangka Nanda tega melakukan semua itu kepadaku. Namun, sikapku tadi sangat keterlaluan. Aku tega memarahi sahabatku yang selama ini selalu baik, setia mendengar curhatku, betah dengan manjanya aku dan masih banyak lagi yang Nanda lakuin buat aku. Tapi kenapa aku malah marah-marah nggak jelas tanpa aku memberitahunya penjelasan terlebih dahulu. Besok, aku harus minta maaf. Aku mau ini semua dibicarain baik-baik. Aku nggak mau persahabatan ini berakhir.
Keesokkan harinya di Sekolah, aku menunggu kedatangan Nanda buat ngasih penjelasan dan minta maaf buat perlakuanku yang kemaren.
“ Dasar cewek sialan ..” suara Nanda yang cukup kencang ada di belakangku.
“ Ada apa Nan ? O, iya aku mau ngimong baik- baik sama kamu ..” ucapku dengan nada rendah.
“ Halah .. dasar mulut embeer kamu. Nggak usah sok ngomong baik-baik deh. Inget-inget aja kemaren gimana sikapmu ke aku. Kamu bentak-bentak seenakmu sendiri, nggak malu apa dliatin temen-temen ?” jawab Nanda dengan ketus.
“ Hloh kenapa toh Nan kamu jadi kaya gini ? Aku tuh beneran mau ngomong baik-baik kenapa kamu malah nuduh yang nggak-nggak ?” jawabku dengan perasaan yang mulai emosi.
“ Udah lah .. nggak usah bohong. Kamu bilang aja maksud kamu ngomong ke temen-temen tuh apa ?” tambah cewek cerewet itu sambil menunjuk ke arah temen-temen.
“ Ouh, aku tahu .. kamu dendam kan sama aku gara-gara aku bentak kamu kemaren ? Iya kan ? Kamu fitnah aku di depan temen-temen gara-gara kamu nggak terima kan sama perlakuanku kemaren ?” ucapku dengan kesal.
“ Heh .. jaga mulutmu ya. Aku sama sekali nggak pernah berpikiran buat fitnah kamu. Jangan ngaco kamu. Pikir dulu kalau ngomong. Aku tuh mau kamu jujur apa maksud omongan kamu itu ?” kata Nanda dengan kemarahannya.
“ Woy . . . . . . cukup ! Kalian ini apa-apaan ? Udah besar kok kaya anak kecil, masih aja berantem nggak malu apa diliatin temen-temen ? Kalian tuh sahabat, kenapa jadi kaya gini ?” kata Anton mencoba melerai.
“ Nanda tuh yang mulai, baru datang udah marah-marah .” timpalku dengan agak sebal.
“ Udah cukup ! Jangan kaya anak kecil lah .. pliss yang dewasa. Sekarang dibicarain baik-baik, jangan pake marah. Kamu duluan Len, yang cerita.” ujar Anton dengan sabar.
“ Oke .. sekarang ngomong baik-baik. Gini, benernya hari ini aku mau minta maaf sama kamu Nan, karna kemaren aku udah marah-marah nggak jelas. Aku juga mau jelasin penyebabnya kenapa aku marah. Dua hari yang lalu, Prima cerita ke aku dia bilang katanya kamu tuh suka sama Mikael. Kamu mau ndengerin curhatku karna kamu pengen tahu segala sesuatu tentang dia. Apa itu bener Nan ?” tanyaku dengan nada yang lembut.
“ Hah .. !”ucap Nanda terkejut. “ Nggak Len, semua itu sama sekali nggak bener. Aku emang lagi suka sama cowok tapi bukan Mikael tepatnya temen akrab Mikael. Aku nggak mungkin ngrebut Mikael dari kamu, Len. Aku nggak mungkin nglakuin hal itu. Aku juga nggak mungkin setega itu sama kamu.” jawab Nanda dengan memegang tanganku.
“ Iya Nan, aku percaya kok sama kamu. Aku juga ragu waktu Prima cerita itu ke aku. Aku shock, dan akhirnya aku emosi. Maafin aku ya Nan, .. maaf banget ..” kataku sambil meneteskan air mata.
“ Iya .. makasih Len kamu mau percaya sama aku. Nggak apa-apa kok. Maafin aku juga ya ..” jawab Nanda dengan mencucurkan air mata.
“ Iya sahabatku. Terus kamu tadi marah kenapa ?” tanyaku kebingungan.
“ Gini, kemaren Prima cerita ke aku katanya kamu tuh di belakangku sering ngejek aku di depan temen-temen. Dia bilang katanya kamu ngatain aku cerewet kaya burung betet lah, terus ngatain karya tulisku nggak masuk akal lah, dll. Apa itu bener Len ?” tanya Nanda dengan heran.
“ Ya Tuhan .. nggak mungkin lah aku tega ngomong kaya gitu tentang kamu. Kita tuh sahabat akrab dari pertama masuk Sekolah.”jawabku dengan mata berkaca-kaca.
“ Nah, enak kan kalau dibicarain baik-baik ?” kata Anton dengan tersenyum.
“ Makasih ya Ton, kamu udah nolongin kita berdua buat nyelesein masalah ini.” ucap Nanda sambil menepuk punggung Anton dan memelukku.
“ Iya .. makasih Ton, kamu udah ngembaliin keadaan seperti semula. Berkat kamu aku nggak kehilangan sahabatku ini.”tambahku sambil menangis dan menerima rangkulan Nanda.
“ Sama-sama pren, tapi abis ini traktir hloh ya ?” jawab Anton dengan merayu.
“ Huu .. dasaar ada aja maunya.”ujarku sambil nyengir.
Berkat Anton permasalahan antara aku dan Nanda akhirnya terselesaikan dengan baik. Aku seneng banget akhirnya sahabat yang aku sayangi ternyata tidak seburuk yang aku kira. Namun, tiba-tiba saja di dalam benakku dan Nanda ternyata memikirkan sesuatu hal yang sama yang terasa mengganjal.
“ Prima . . . .” ucapku dan Nanda bersamaan dengan muka heran dan tidak percaya.

Oleh : Rossy K.
XI IA AKS 2 / 19

Senin, 07 September 2009

Bahasa Indonesia : Cerpen

..Berikut adalah cerpen saya, Madha Ajiyoga Susetya dari tugas bahasa Indonesia yang diampu oleh Ibu Rahardini..

Bantuanku untuk Mereka

Kuusap keringatku sambil melirik tiga tubuh ukuran orang dewasa yang sepertinya kukenal tergeletak tak bernyawa di sampingku. Hembusan angin dan kicau burung gagak membawa pikiranku ke masa itu. Masa di mana penuh kebahagiaan, masa kejayaan, dan masa yang sangat menggembirakan. Kesedihan tiada akhir dan letupan amarah jiwaku yang ingin kuungkapkan atas semua hal ini. Aku juga merasakan suatu penyesalan yang penuh dengan kebimbangan akan masa depanku.

***
Saat itu aku duduk di kelas sepuluh SMA di salah satu SMA ternama di kota Solo. Teman-temanku biasa memanggilku Yoga. Beruntungnya diriku karena dilahirkan di keluarga yang cukup. Cukup untuk membayar uang sekolah dan uang saku yang secara reguler diberikan kepadaku dan untuk makan sehari-hari. Teman-temanku begitu ambisius di sekolah, seakan aku tidak mempunyai kesempatan untuk menandingi mereka. Tibalah suatu saat di mana aku memenangkan suatu kejuaraan tingkat nasional.
Pada awalnya aku senang sekali bisa mendapatkan itu. Akan tetapi kemenangan itu membawa suatu dampak dalam hidupku yang sepi ini. Aku begitu sombongnya sehingga kurang memperhatikan pelajaran selanjutnya. Aku baru menyadarinya setelah beberapa saat mendapatkan nilai ulangan harian yang sangat buruk melebihi sebelumnya. Aku mencoba untuk berubah dan tidak menjadi seorang keledai yang memenangkan suatu pacuan kuda.
Aku mempunyai keinginan yang besar. Keinginan yang dipandang orangtua yang membesarkanku sebagai ketidakmungkinan. Aku ingin sekali bisa berkuliah suatu saat nanti di luar negeri. Aku ingin lebih sukses daripada orangtuaku. Aku ingin sekali bisa lebih sukses daripada kakakku yang kesehariannya lebih disayang orangtuaku daripadaku. Ingin rasanya hati ini memperoleh sesuatu yang diimpikannya menjadi kenyataan.
Suatu ketika ibuku berbicara bahwa keuangan keluarga tidak mencukupi apabila aku memang harus berkuliah di luar negeri. Untuk berkuliah di dalam kota saja masih tidak tahu mendapat uang dari mana, apalagi kalau harus ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Kata-kata ibuku seketika menusuk anganku untuk mencapai sesuatu yang lebih kuanggap lebih bernilai daripada hidupku saat itu. Di hatiku timbul rasa putus asa yang benar-benar membuatku tidak bersemangat lagi untuk bersekolah karena selama ini memang tujuanku masuk sekolah adalah untuk menambah ilmu dan pergi ke salah satu universitas impianku.
Kakakku tercinta sudah berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Bandung. Orangtuaku begitu membanggakannya. Terbukti setiap mereka berbincang dengan tetangga pasti diceritakannyalah tentang anak emas itu. Aku tidak tahu mengapa hidupku begitu terkungkung akan hal-hal yang sewajarnya adalah hal kecil tetapi hal itu membuatku sangat gelisah dan bimbang dalam berbuat.
Mendadak keluargaku jatuh miskin karena ayahku ternyata mempunyai hutang yang sangat banyak dan tidak bisa dibayar jika tidak menjual rumah yang kami tinggali. Ke mana kami tinggal? Ke mana kami bertahan hidup? Sejauh ini Tuhan tidak membiarkan keluarga kami lebih menderita dari sebelumnya, tetapi mengapa Tuhan memberikan musibah ini tiba-tiba hingga kami tidak bisa mempersiapkan sebelumnya?
Kami sekeluarga mencari kontrakan rumah di mana-mana. Beruntung kami menemukan sebuah rumah kecil yang bisa kita sebut gubuk yang terletak persis di depan rel kereta api. Aku dan kakakku sudah tidak bisa meneruskan sekolah kami. Pupus sudah harapanku untuk menggapai anganku. Kami terpaksa bekerja semampunya. Ayahku berusaha menjadi seorang buruh bangunan untuk mencukupi kebutuhan kami semua. Ibuku setiap pagi membuat gorengan dan kakakku menjual gorengan tersebut siangnya. Gorengan itu pun dapat dibuat dengan modal sisa terakhir uang kami. Ibuku terlihat lebih kasihan daripada yang sebelumnya. Aku bisa mengingat-ingat bahwa dia saat itu begitu menyebalkan dan inginku memakinya habis-habisan. Semua perasaan itu sirna ketika aku melihat perjuangan keras ibuku yang setuap pagi membuat gorengan dan siangnya menjadi kuli cuci hingga malam. Aku memutuskan diri untuk menjadi tukang semir sepatu di stasiun dekat gubuk kami.
Aku teringat saat itu bahwa kami sempat makan bersama dengan lauk tempe mentah yang dipenyet dengan sambal yang seadanya. Entah mengapa aku merasakan bahwa saat itu adalah saat-saat di mana aku dapat mengambil sesuap nasi dan memasukkannya ke mulutku begitu lezat dan lebih nikmat daripada saat di rumah kami sebelumnya.
Seperti biasanya keesokan harinya ayahku bekerja sebagai buruh bagunan, ibu memasak dan siangnya menjadi tukang cuci. Kakakku seperti biasanya menjual keliling gorengan itu. Kusiapkan alat semirku dan aku mulai beranjak dari bilik kecil di samping rel kereta ini untuk mencari sesuap nasi dan melihat masa depan yang tak pasti. Yang ada di benak kami saat itu adalah mencari uang dan mempertahankan hidup.
Kutawarkan jasaku kepada seorang bapak yang menunggu kereta Prameks tujuan Yogyakarta. Dia langsung menolakku mentah-mentah tanpa ada senyum terlintas di bibirnya. Ku mencoba untuk tak menyerah dan mencari bapak-bapak lain yang sekiranya mau menerima jasaku dan membayarku lebih. Kutemukan bapak berperawakan tinggi besar dengan perut buncitnya menunggu kereta sambil membawa handphonenya dan bercakap dengan sesorang di sana. Dia terlihat begitu ramah dan bersahabat. Ketika aku menwarinya semir sepatu, dia menerimanya dan dengan senyumnya yang begitu lebar. Lima menit pun berlalu, bapak itu memberiku uang sepuluh ribu. Sebenarnya aku mematok harga lima ribu untuk jasaku, tetapi bapak itu berkata bahwa tidak apa-apa,-- untuk makan katanya. Sore pun tiba, aku duduk termenung di bawah tangga stasiun yang menghadap ke barat sambil melihat terbenamnya matahari. Kulihat pancaran sinarnya yang perlahan-lahan sirna. Uang sepuluh ribu tadi agaknya tidak memebawa kegembiraan bagiku.
Terlintas di benakku apakah nasibku akan seperti matahari itu, yang pada suatu saat akan tenggelam, mati dan tidak bertenaga lagi. Aku melihat keadaan keluargaku yang begitu mengenaskan. Aku melihat ayahku, ibuku, dan kakakku yang bekerja dengan giat untuk memperoleh sesuap nasi. Aku merasa bahwa keberadaan keluarga kami di dunia ini seperti layaknya nyamuk yang sesaat mengecap darah seseorang lalu mati karena ditepuk.
Aku kembali ke gubuk lebih awal daripada yang lainnya. Aku mempersiapkan makan malam seperti biasanya. Aku memberikan racun tikus pada makanan ayah, ibu, dan kakakku. Kucampur racun tikus itu sedemikian rupa sehingga tidak terasa aromanya.
Tidak lama kemudian ayahku pulang. Dia bertanya apakah ibuku dan kakakku sudah pulang. Saat ayah bertanya, tiba-tiba dari pintu masukklah mereka berdua karena kebetulan kakak hari ini membantu pekerjaan ibu di rumah bu Parti. Mereka semua berterimakasih kepadaku karena sudah menyiapkan makan malam yang seadanya seperti biasa sebelum mereka datang. Ayahku memimpin doa makan. Mereka memakan makanan dan akupun juga.
Pada awalnya mereka dengan lahapnya tetapi setelah beberapa saat kakakku merasakan ada sesuatu yang aneh dan mulai memegangi kepalanya yang berkunang-kunang. Ibuku membantu kakakku tetapi ternyata ibuku juga merasakan hal yang sama. Ayahku tertegun dan kebingungan akan apa yang harus diperbuat. Ayah melihat ke arahku dengan tatapan penuh emosi karena sepertinya ayah sudah menyadari bahwa semua ini salahku. Tiba-tiba mereka semua terkapar dan mengeluarkan busa dari mulutnya. Mereka mulai kejang-kejang dan menghembuskan nafas terakhir.
Kebodohan macam apa yang sudah aku perbuat? Pikiran apa yang ada di benakku hingga membuat mereka bertiga seperti itu? Terbanyang di anganku bahwa dengan apa yang kulakukan, aku membantu mereka dalam melewati semua kesusahan ini. Lima menit aku berdiam melihat busa-busa itu keluar dari mulut mereka sambil membayangkan bagaimana aku bisa hidup esok hari tanpa mereka. Makin terkuburlah anganku untuk melanjutkan sekolah dan berkuliah di luar negeri. Terkuburlah anganku akan memborong piala dan kejuaraan lain. Ya Tuhan, maafkanlah hambaMu ini.


Madha Ajiyoga Susetya
XI IA AKS 2 / 14

Matematika : MATRIKS

Dalam kehidupan sehari-hari atau dalam proses penyelesaian permasalahan dalam pelajaran lain, sering dihadapkan kepada pencariuan nilai beberapa peubah (variabel). Matriks adalah salah satu media bantu untuk memecahkan masalah-maslah tersebut. beberapa contoh penggunaan matriks sebagai media bantu dalam memecahkan masalah, di antaranya adalah :
  1. Memudahkan dalam membuat analisis suatu masalah ekonomi yang mengandung bermacam-macam peubah (variabel).
  2. Digunakan dalam memecahkan masalah operasi penyelidikan atau penelitian, misalnya : penyelidikan sumber-sumber minyak, kependudukan, dan lain-lain.
  3. Analisis input-output baik dalam bidang ekonomi, statistika, maupun dalam bidang-bidang pendidikan, manajemen kimia, dan bidang-bidang teknologi lainnya.
Berikut akan dijelaskan sejara detail mengenai matriks yang terdiri dari :
  1. Pengertian matriks
  2. penulisan matriks
  3. matriks identitas
  4. perkalian matriks
  5. transpose matriks
  6. determinan matriks
  7. kofaktor matriks
  8. matriks adjoin
  9. invers matriks
Setelah mengklik link di bawah ini, kita semua diajak untuk mampu untuk :
  1. menentukan invers dari suatu bentuk matriks berordo 3x3 dengan metode Sarrus
  2. menentukan invers dari suatu matriks berordo 3x3 dengan menggunakan kofaktor-kofaktor matriks
  3. memanfaatkan matriks sebagai media bantu dalam pemecahan masalah

Bu Emi


Bu Emi, itulah nama guru TIK kami. Nama lengkapnya Emi Budi Susilowati..
Sosok Ibu Emi bagi kami adalah sosok seorang guru yang sangat sabar dalam mengajar dan menghadapi tingkah laku kami yang seenaknya sendiri.

Bu Emi termasuk guru yang cukup disiplin karena setiap tugas yang diberikannya harus segera dikumpulkan tepat waktu.

Ibu EMi sudah mengajar di SMA Negeri 1 Surakarta cukup lama, sehingga termasuk guru yang profesional di SMA Negeri 1 Surakarta. Beliau juga menjadi pembimbing bagi yang akan berolimpiade infromatika ataupun lomba-lomba komputer lainnya.

Walaupun TIK di sekolah kami mengambil kurikulum yang sedikit beda dengan biasanya dan lebih sulit tentunya, Bu Emi mengajarkannya dengan cukup jelas dan dengan suasana pembelajaran yang menyenangkan..

Kami harap Bu Emi berkenan mengajar kami hingga lulus nanti dan inilah blog persembahan kami untuk ibu..

Ibu Emi lahir pada tanggal 26 Juli 1974 dan memiliki dua orang anak, yakni Ardelia Rahma Dea dan M. Thoriq Adna Rhesa. Keduanya berumur 10 dan 4 tahun. Ternyata di tengah kesibukannya, beliau tetap mengurus keluarga dengan baik dan dengan semestinya. Suaminya bernama Suyamto.

Ibu Emi terakhir menamatkan kuliahnya di Universitas Surakarta dan ICT, serta sebelumnya bersekolah di SMA Negeri 5 Surakarta.

Tugas TIK

Hehehehe...
Pertama-tama kami selaku pembuat blog ini mengucapkan banyak terimakasih atas kunjungan Anda ke blog ini.
Pembuatan blog ini bertujuan untuk pemenuhan dalam tugas TIK di SMA Negeri 1 Surakarta..
Blog ini kami persembahkan untuk Ibu Emi tercinta selaku guru kami...

Regards,

Madha Ajiyoga Susetya XI IA AKS 2.14
Ferensia Radita XI IA AKS 2.10
Rossy Krisvalentina XI IA AKS 2.19