Salah Sangka
Matahari pagi menyembul dari ufuk timur menghangatkan kota Bogor yang diguyur hujan beberapa hari sebelumnya. Dingin perlahan beranjak pergi, seiring dengan hembusan udara segar yang membangkitkan gairah untuk kembali beraktivitas. Kicau burung yang menawan menambah keceriaan setiap penghuni di sekitarnya. Pohon dan bungapun ikut bernyanyi di kala pagi yang indah hari itu. Kendati hal tersebut, tidak membuat aku untuk cepat mandi dan memakai seragam sekolah.
Alarm hapeku mendadak bunyi “ Kamu keterlaluaaan ...”
“ Huuaah .. tidaaak ... aku hampir telat !” teriakku dengan keras.
Jam telah menunjukan pukul 06.49. Bergegas aku beranjak dari tempat tidurku dan menggapai handuk yang digantung cukup tinggi. Kemudian aku mandi seperti bebek dengan begitu cepatnya tanpa membersihkan badanku secara mendetail (dasar jorok ..). Lalu dengan terburu-buru aku pun memakai seragam baruku karena hari ini adalah hari pertama aku menjadi siswi SMU di sebuah sekolah di Bogor.
Tiba di Sekolah aku pun berlari untuk memasuki ruang kelas. Banyak sekali siswa yang bersekolah di sini tapi tak satupun ku kenal.
“ Teeet ... teet ...”bunyi bel Sekolah tanda masuk.
“ Hufh .. untungnya nggak telat, dasaar emang kebo.” keluhku.
Di dalam kelas aku bingung duduk di kursi yang mana. Aku melihat ada kursi yang masih kosong di deretan paling belakang dan aku pun menuju ke sana. Setelah aku duduk tak lama kemudian ada seorang cewek dengan rambut rebondingan duduk di sampingku. Dengan PD yang pas-pasan aku memberanikan diri untuk mengajaknya berkenalan.
“ Heei .. kenalin aku Ellen, dari Solo.” kataku sambil mengulurkan tangan.
“ Ouuhh .. iya Len, kenalin aku Prima dari Jogja.” ucap cewek itu sambil tersenyum.
“ Waah, ternyata kamu juga bukan asli sini toh ?” ucapku terlihat akrab.
“ Haduuh Ellen.. kan jelas-jelas nggak, ngapain tanya ?” ucapnya sambil tertawa.
“ Maap dueeh mangaap .. .” kataku sambil bercanda.
“ Ah, kamu ini .. garing tapi lucu.”kata Prima dengan tersenyum melihatku.
Senang rasanya, aku punya temen yang baik dan mau ku ajak bercanda. Aku dan Prima sama-sama nggak punya temen yang dikenal sebelumnya di Sekolah ini. Kemudian aku dan Prima ngajak kenalan cewek dengan rambut sebahu yang duduk di bangku depanku.
“ Helo kawan .. boleh kenalankah ?” sapaku dengan menyentuh punggung belakangnya.
“ Emm .. jelas boleh lah, aku Nanda. Kamu siapa ? Bukan asli sini ya ? Terus temenmu itu namanya siapa ?” jawab cewek cerewet itu.
“ Haduh .. banyak banget tanyanya .. satu-satu napa ? Gini, kenalin aku Ellen temenku ini Prima. Iya aku bukan asli sini, kok kamu tahu?” ucapku dengan sok bingung.
“ Maap .. udah biasa ngomong cepet soalnya, ya jadi kaya gini. Keliatan dari mukamu.” jawab Nanda dengan ketawa.
“ Napa mukaku cantik ya ? Udah lama kok, aku kan keturunan bidadari yang turun dari langit ke tujuh belas.” kataku sok ngelawak.
“ Duh .. narsis banget sih kamu. Tanggung jawab kamu, perutku jadi pusing gara-gara kamu ngomong gitu tadi.” sindir cewek itu sambil megang perutnya.
“ Sakit beneran baru kapok ..” ucapku sambil nyengir.
“ Jangan donk ..” jawab Nanda dengan muka mrengut.
Waktu demi waktu berlalu, aku, Prima dan Nanda terlihat sangat akrab saat bercanda tawa dan saling mengejek. Aku merasa nyaman berteman dengan kedua manusia yang sebelumnya tak ku kenal. Merekapun sepertinya merasa hal yang sama dengan perasaan dan gejolak dalam hatiku yang membara layaknya api yang tak kunjung padam(sok puitis .. ).
Bulan demi bulan kami lewati bersama, yang awalnya hanya temen biasa lambat laun berakhir dengan persahabatan. Persahabatan yang sangat berarti dalam kehidupanku. Segala gundah, kecewa, tangis dan tawa ku tuangkan semuanya pada sahabat begitupun sebaliknya. Perbedaan hobi, tingkah laku dan sifat yang masing-masing kami miliki sama sekali nggak jadi permasalahan buat menjalin persahabatan. Seperti misalnya aku dengan kepolosan dan keluguanku yang suka ceplas-ceplos, teriak-teriak, marah-marah, manja dan hobi buat beribu-ribu pulau. Sedangkan Prima adalah cewek centil yang suka dandan, bawa kaca kemana-mana, gonta-ganti cowok, dan hobi shopping. Kalau Nanda, dia adalah cewek cerewet yang nggak mau dibantah, dewasa dan punya hobi nulis. Hal tersebut sedikitpun nggak jadi masalah buat aku dan sahabatku bangun persahabatan yang kokoh seperti cakar ayam. Namun, tak disangka suatu ketika hal yang nggak ku inginkan sama sekali itu pun terjadi. Goncangan yang cukup hebat mampu mengusik amarahku.
“ Nandaaa . . . . . . . !!!” teriakku dengan kesal.
“ Iya .. apa sih ? Kamu kenapa Len, masih pagi teriak-teriak nggak jelas ?” ucap Nanda kebingungan.
“ Jengkelin banget sih kamu ..” tambahku dengan muka sebel.
“ Hloh .. kenapa toh ? Aku salah apa ? Aku berbuat apa sama kamu ? Kemaren kan kita baru aja canda tawa bareng kenapa sekarang kamu ngatain aku kaya gitu ?” jawab Nanda dengan menggaruk-garuk-kepala.
“ Heh cewek cerewet .. jangan sok nggak tahu deh kamu.” Sebenarnya selama ini kamu punya niat busuk kan sama aku ? Kamu ndengerin semua curhatku karna ada udang di balik batu kan ?” kataku sambil mendobrak meja kelas.
“ Maksud kamu apa ? Aku nggak terima kamu bilang semua itu. Aku itu sahabat kamu, aku nggak mungkin lah punya niat busuk atau gimana. Aku tuh sayang sama kamu, Len. Aku udah nganggep kamu saudaraku.” ucap cewek cerewet itu dengan mata berkaca-kaca.
“ Saudara dari Hongkong ..” Aku nggak mau punya saudara yang jahat kaya kamu. Bisa-bisa tiap hari aku nangis darah gara-gara ulahmu. Sayang-sayang pula, emang aku pacarmu apa ? Idiih .. ogah deh aku. Aku masih waras nggak gila kaya kamu. Udah lah jangan belagak sok nggak tau, sekarang kamu jawab jujur aja sama aku sebenarnya mau kamu tuh apa ?” tambahku dengan mendorong Nanda ke belakang.
“ Ya ampun .. kamu apa-apaan sih, Len ? Kamu seenaknya ndorong aku gitu aja. Aku tuh bener-bener nggak tahu maksud kamu.” jawab Nanda dengan nada rendah dan meneteskan air mata.
“ Nangis-nangis .. bisanya cuma nangis. Laporin sana ke Guru kalau aku udah nganiaya kamu, aduin aja sana. Dasar kamu ini serigala berbulu domba. Kamu nangis gini biar temen-temen prihatin kan sama kamu ? Biar temen-temen benci sama aku karna aku udah tega bentak-bentak sahabatku sendiri ? Iya kan ?” tambahku dengan mencengkeram kedua tanganku.
“ Enggak .. enggak Len .Cukup, nggak usah berbelit-belit sekarang kamu jelasin apa salahku yang udah ku lakuin sama kamu ?” jawab Nanda dengan kembali meneteskan air mata dan sambil mengusapnya dengan tangan.
“ Kamu mau tahu salahmu yang udah kamu perbuat ke aku ? Kamu udah ... ” jawabku terpotong karna penjaga Sekolah telah membunyikan bel.
“Teet .. teet ..” bel masuk berbunyi.
Tiba-tiba bel masuk pun berbunyi. Dengan penuh amarah yang masih meluap-luap, aku mengikuti pelajaran dengan pikiran yang sama sekali nggak konsen. Perasaan yang campur aduk membuat aku nglamun dan malas dengan pelajaran saat itu. Emosi, marah, itulah perasaan yang aku rasakan. Aku sedih, aku kesal, aku tak menyangka seorang sahabat yang selalu menjadi tempat aku sharing itu telah mengkhianatiku. Nanda ternyata mencintai orang yang sama dengan aku, Mikael namanya. Mikael adalah mantan kekasihku yang sebenarnya aku masih sayang sama dia. Aku menceritakan semuanya pada Nanda. Karna Nanda adalah sahabat yang paling ngertiin aku dan bisa ngasih solusi yang terbaik buat aku. Tapi kenyataannya Nanda berusaha mencari informasi tentang kegiatan Mikael, hobinya, dll. lewat curhat yang selama ini aku ceritakan padanya.
Tak kusangka Nanda tega melakukan semua itu kepadaku. Namun, sikapku tadi sangat keterlaluan. Aku tega memarahi sahabatku yang selama ini selalu baik, setia mendengar curhatku, betah dengan manjanya aku dan masih banyak lagi yang Nanda lakuin buat aku. Tapi kenapa aku malah marah-marah nggak jelas tanpa aku memberitahunya penjelasan terlebih dahulu. Besok, aku harus minta maaf. Aku mau ini semua dibicarain baik-baik. Aku nggak mau persahabatan ini berakhir.
Keesokkan harinya di Sekolah, aku menunggu kedatangan Nanda buat ngasih penjelasan dan minta maaf buat perlakuanku yang kemaren.
“ Dasar cewek sialan ..” suara Nanda yang cukup kencang ada di belakangku.
“ Ada apa Nan ? O, iya aku mau ngimong baik- baik sama kamu ..” ucapku dengan nada rendah.
“ Halah .. dasar mulut embeer kamu. Nggak usah sok ngomong baik-baik deh. Inget-inget aja kemaren gimana sikapmu ke aku. Kamu bentak-bentak seenakmu sendiri, nggak malu apa dliatin temen-temen ?” jawab Nanda dengan ketus.
“ Hloh kenapa toh Nan kamu jadi kaya gini ? Aku tuh beneran mau ngomong baik-baik kenapa kamu malah nuduh yang nggak-nggak ?” jawabku dengan perasaan yang mulai emosi.
“ Udah lah .. nggak usah bohong. Kamu bilang aja maksud kamu ngomong ke temen-temen tuh apa ?” tambah cewek cerewet itu sambil menunjuk ke arah temen-temen.
“ Ouh, aku tahu .. kamu dendam kan sama aku gara-gara aku bentak kamu kemaren ? Iya kan ? Kamu fitnah aku di depan temen-temen gara-gara kamu nggak terima kan sama perlakuanku kemaren ?” ucapku dengan kesal.
“ Heh .. jaga mulutmu ya. Aku sama sekali nggak pernah berpikiran buat fitnah kamu. Jangan ngaco kamu. Pikir dulu kalau ngomong. Aku tuh mau kamu jujur apa maksud omongan kamu itu ?” kata Nanda dengan kemarahannya.
“ Woy . . . . . . cukup ! Kalian ini apa-apaan ? Udah besar kok kaya anak kecil, masih aja berantem nggak malu apa diliatin temen-temen ? Kalian tuh sahabat, kenapa jadi kaya gini ?” kata Anton mencoba melerai.
“ Nanda tuh yang mulai, baru datang udah marah-marah .” timpalku dengan agak sebal.
“ Udah cukup ! Jangan kaya anak kecil lah .. pliss yang dewasa. Sekarang dibicarain baik-baik, jangan pake marah. Kamu duluan Len, yang cerita.” ujar Anton dengan sabar.
“ Oke .. sekarang ngomong baik-baik. Gini, benernya hari ini aku mau minta maaf sama kamu Nan, karna kemaren aku udah marah-marah nggak jelas. Aku juga mau jelasin penyebabnya kenapa aku marah. Dua hari yang lalu, Prima cerita ke aku dia bilang katanya kamu tuh suka sama Mikael. Kamu mau ndengerin curhatku karna kamu pengen tahu segala sesuatu tentang dia. Apa itu bener Nan ?” tanyaku dengan nada yang lembut.
“ Hah .. !”ucap Nanda terkejut. “ Nggak Len, semua itu sama sekali nggak bener. Aku emang lagi suka sama cowok tapi bukan Mikael tepatnya temen akrab Mikael. Aku nggak mungkin ngrebut Mikael dari kamu, Len. Aku nggak mungkin nglakuin hal itu. Aku juga nggak mungkin setega itu sama kamu.” jawab Nanda dengan memegang tanganku.
“ Iya Nan, aku percaya kok sama kamu. Aku juga ragu waktu Prima cerita itu ke aku. Aku shock, dan akhirnya aku emosi. Maafin aku ya Nan, .. maaf banget ..” kataku sambil meneteskan air mata.
“ Iya .. makasih Len kamu mau percaya sama aku. Nggak apa-apa kok. Maafin aku juga ya ..” jawab Nanda dengan mencucurkan air mata.
“ Iya sahabatku. Terus kamu tadi marah kenapa ?” tanyaku kebingungan.
“ Gini, kemaren Prima cerita ke aku katanya kamu tuh di belakangku sering ngejek aku di depan temen-temen. Dia bilang katanya kamu ngatain aku cerewet kaya burung betet lah, terus ngatain karya tulisku nggak masuk akal lah, dll. Apa itu bener Len ?” tanya Nanda dengan heran.
“ Ya Tuhan .. nggak mungkin lah aku tega ngomong kaya gitu tentang kamu. Kita tuh sahabat akrab dari pertama masuk Sekolah.”jawabku dengan mata berkaca-kaca.
“ Nah, enak kan kalau dibicarain baik-baik ?” kata Anton dengan tersenyum.
“ Makasih ya Ton, kamu udah nolongin kita berdua buat nyelesein masalah ini.” ucap Nanda sambil menepuk punggung Anton dan memelukku.
“ Iya .. makasih Ton, kamu udah ngembaliin keadaan seperti semula. Berkat kamu aku nggak kehilangan sahabatku ini.”tambahku sambil menangis dan menerima rangkulan Nanda.
“ Sama-sama pren, tapi abis ini traktir hloh ya ?” jawab Anton dengan merayu.
“ Huu .. dasaar ada aja maunya.”ujarku sambil nyengir.
Berkat Anton permasalahan antara aku dan Nanda akhirnya terselesaikan dengan baik. Aku seneng banget akhirnya sahabat yang aku sayangi ternyata tidak seburuk yang aku kira. Namun, tiba-tiba saja di dalam benakku dan Nanda ternyata memikirkan sesuatu hal yang sama yang terasa mengganjal.
“ Prima . . . .” ucapku dan Nanda bersamaan dengan muka heran dan tidak percaya.
Oleh : Rossy K.
XI IA AKS 2 / 19
Jumat, 11 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar